Perempuan Bukan Cinderella
Oleh:
Zahriani Ahmad Amin
Perempuan
bukanlah seorang Cinderella, yang hanya berdiam diri dan menangis ketika kehidupan tidak berpihak padanya. Cinderella,
hanya menunggu keajaiban dari datangnya
seorang pangeran yang akan mengangkatnya dari keterpurukan, sementara kesedihan nya hanya diceritakan pada tikus-tikus loteng yang
tidak bisa menolongnya. Berharap dari keajaiban seorang ibu peri yang akan
membantunya menjadi lebih baik, takut melawan ketidak nyaman yang dialaminya.
Pasrah, begitulah keadaan perempuan yang mengalami cinderella complec syndrom. Pernyataan di awal tulisan “Perempuan
bukanlah seorang cinderella” tidak bermaksud merendahkan hasil karya sastra
orang lain berupa tokoh imajinatif yang telah menjadi legenda selamat berabad.
Sungguh tidak mudah menciptakan tokoh yang mampu bertahan selama itu. Yang
ingin dikritik dari tulisan ini adalah sikap perempuan yang nyaman dengan rasa tidak nyaman mereka.
Adat dan kebiasaan
masyarakat kita yang telah bergeser dalam mendidik anak perempuan mungkin juga
dapat mempengaruhinya, dimana perempuan selalu dianggap sebagai manusia lemah
yang tidak mampu melindungi diri mereka sendiri. Maka tidak heran jika sekarang
sangat sulit mencari perempuan yang sekelas dengan Cut Meutia, Laksamana
Malahayati, Cut Nyak Dhien, Ratu Shafiatuddin atau para tokoh perempuan Aceh
lainnya. Mereka tidak lahir dari adat yang memanjakan apalagi menghina
kemampuan seorang perempuan. mereka bisa berhasil karena diberdayakan oleh adat
lingkungannya
Perempuan memang tidak memiliki
kekuatan maskulin yang dapat mendobrak keterbelengguannya oleh adat yang telah bergeser ini dengan otot-otot mereka.
Tapi perempuan memiliki kekuatan
dalam kelembutannya. Perjuangan
perempuan sekarang tidak akan sama dengan zaman perjuangan tokoh-tokoh
perempuan aceh yang saya sebutkan sebelumnya. Namun perempuan harus
terus bergerak, lewat pemikiran adalah alternatif
jalan yang dapat dilalui bukan hanya diam menunggu nasib diperbaiki oleh waktu.
Pena adalah jalan dari perjuangan menuangkan pikiran, lewat
pena
pemikiran perempuan harus mampu
terus menerobos benteng-benteng ketidakadilan sampai kapanpun. Lalu mengapa kita
masih enggan untuk menuliskan pemikiran kita, bukankah setiap manusia punya
pemikiran yang unik? Begitu banyak manfaat yang dapat kita ambil dari kegiatan
tulis menulis itu sendiri. Salah satunya adalah mengabadikan pemikiran, seperti perkataan
Pramoedya Ananta Toer “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi
selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dalam sejarah”
(Pramoedya Ananta Toer).
Bangunkan Jiwa
Menulis adalah
kegiatan yang akan membangun jiwa, jiwa yang sehat seperti sebuah komando yang
akan menggerakkan semua lini kehidupan. Pertanyaannya, “Kapankah
kita akan mulai belajar dan berpikir untuk jiwa kita?”
Selama ini kita hanya memikirkan membangun
fisik kita saja, sedangkan jiwa kita tidak pernah tersentuh. Membangun jiwa akan terasa lebih mudah jika para perempuan tidak lagi memikirkan kepentingan jangka pendek dan
kepentingan terbatas saja. Perjuangan emansipasi perempuan
bukan sebatas untuk memenuhi kepentingan individual yang sifatnya praktis dan
musiman semata. Disayangkan, emansipasi perempuan dewasa ini lebih terkesan
sekedar untuk memperjuangkan ekonomi dan kesejahteraan individu dan keluarga, rasanya sangat individual.
Seharusnya perjuangan ini adalah perjuangan yang bisa dinikmati oleh semua
kaum perempuan dengan peran apa saja yang mereka tekuni. Hal ini dapat
dilakukan ketika
perempuan berhasil keluar dari keegoisan mereka, jiwa-jiwa mereka akan tumbuh bukan hanya ke dalam diri namun juga keluar diri. Dengan
sendirinya mereka akan berpikir dan melakukan hal-hal yang luar biasa, yang
akan mengangkat derajat kaumnya. Bahwa dalam kelembutan seorang perempuan ada
kekuatan yang menggetarkan. Perempuan tidak harus menjadi seperti laki-laki.
Jadilah diri sendiri yang memang identik dengan kelembutan. Miranda Risang Ayu
dalam bukunya yang berjudul Permata Rumah Kita menuliskan “Bahwa eksistensi
seorang perempuan pun tidak ditentukan dari banyaknya anak, perhiasan atau warisan
yang dapat dimiliki dari pasangannya. Tetapi dari keluasan kesabarannya untuk
merasa cukup dengan dirinya sendiri, sehingga tumbuh fungsi sosial dan
spiritual dari semua yang disandarkan kepadanya”. Sehingga sikap altruis akan tumbuh dengan sendirinya dalam jiwa perempuan
dan diharapkan dapat tumbuh secara berjamaah. Komaruddin Hidayat dalam buku
Psikologi Beragama mengungkapkan dalam hidup kita harus mampu
mengembangkan sikap altruis, yaitu sikap yang meyakini ada kenikmatan yang
sesungguhnya dalam memberi. Ketika tatanan ini mampu dicapai maka tidak
mengherankan jika seorang perempuan akan mampu memberikan keseimbangan dalam
kehidupannya. tentunya bukan hanya perempuan yang harus
belajar menjadi altruis tetapi lelaki juga harus memilikinya,
karena altruisme sepihak hanya akan menciptakan eksploitasi tanpa sadar.
Dunia
menerima pemberianmu
Agama
(Islam) sendiri tidak bertentangan dengan konsep
altruis. Rasulullah SAW dan
para sahabat banyak memberikan contoh sikap altruisme ini dalam kehidupan
mereka. Misalnya
seperti yang disabdakan Nabi Muhammad SAW “Orang yang baik adalah orang yang
(banyak) memberi manfaat kepada orang lain.”
Dalam sabda yang lain, Rasulullah SAW mengatakan; “Tangan di atas (orang yang
memberi) lebih baik dari tangan di bawah (orang yang menerima).”
Masih ingat
kisah seekor burung pipit yang kecil yang berniat memadamkan kobaran api yang
membumbung tinggi ketika Nabi Ibrahim dibakar oleh raja Namrud
dengan setetes air dari mulutnya? Sekilas hal ini perbuatan
sia-sia bukan? Tetapi pernahkah kita berpikir, bahwa sekecil apapun satu
ikhtiar maka hal itu cukup berarti. Menuliskan pemikiran oleh perempuan untuk hal yang bermanfaat bagi nasib
perempuan lainnya adalah seperti sikap burung pipit memadamkan api dengan
setetes air. Walau terlihat sepele, dengan menulis sebenarnya perempuan telah
menggugah manusia untuk membaca dan memperhatikan ketimpangan-ketimpangan yang
berlaku. Bukankah mata pena lebih mengerikan dari mata pedang? Lalu mengapa
kita perempuan yang selalu diidentikkan dengan kelembutan (kelemahan) mengapa
tidak memanfaatkan mata pena sebagai senjata. Dengan tulisan perempuan dapat
mengubah dunia, tanpa harus menuju ke kancah peperangan.
Komentar
Posting Komentar