Perempuan Bukan Cinderella

Oleh: Zahriani Ahmad Amin
           
Perempuan bukanlah seorang Cinderella, yang hanya berdiam diri dan menangis ketika kehidupan tidak berpihak padanya. Cinderella, hanya menunggu keajaiban dari datangnya seorang pangeran yang akan mengangkatnya dari keterpurukan, sementara kesedihan nya hanya diceritakan pada tikus-tikus loteng yang tidak bisa menolongnya. Berharap dari keajaiban seorang ibu peri yang akan membantunya menjadi lebih baik, takut melawan ketidak nyaman yang dialaminya. Pasrah, begitulah keadaan perempuan yang mengalami cinderella complec syndrom. Pernyataan di awal tulisan “Perempuan bukanlah seorang cinderella” tidak bermaksud merendahkan hasil karya sastra orang lain berupa tokoh imajinatif yang telah menjadi legenda selamat berabad. Sungguh tidak mudah menciptakan tokoh yang mampu bertahan selama itu. Yang ingin dikritik dari tulisan ini adalah sikap perempuan yang nyaman dengan rasa tidak nyaman mereka.
Kita tidak bisa memvonis seseorang telah mengalami sindrom tanpa diagnosa yang mendalam, namun tidak bisa dipungkiri banyak kita temui perempuan menampakkan gejala sindrom ini. Mereka sangat ketakutan jika hidup sendiri, karena tidak adanya kemandirian dalam diri. Selalu bergantung terutama pada pasangannya, saat pasangannya tiada baik berpisah karena kematian, perceraian atau tinggal berjauhan hal ini adalah kiamat kecil bagi mereka. Sebab terjadinya sindrom ini sangat dipengaruhi oleh kehidupan masa kecil, biasanya perempuan yang terlalu dimanja atau yang mendapatkan kekerasan psikologis di masa kecil cenderung mengalaminya. Rasa percaya diri menghadirkan kebahagiaan untuk dirinya sendiri sangat kurang. Sehingga mereka menggantungkan hidupnya pada orang lain bukan hanya secara ekonomi tapi dalam segala hal. Mereka hanya berharap hadirnya seorang pangeran yang akan selalu menghadirkan kebahagiaan dan mengangkatnya dari keterpurukan, tanpa ada usaha dari dalam diri untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Jika kenyataan yang dijumpai berbeda dengan harapan, mereka cenderung untuk menyalahkan orang lain sebagai penyebab penderitaan mereka.
Adat dan kebiasaan masyarakat kita yang telah bergeser dalam mendidik anak perempuan mungkin juga dapat mempengaruhinya, dimana perempuan selalu dianggap sebagai manusia lemah yang tidak mampu melindungi diri mereka sendiri. Maka tidak heran jika sekarang sangat sulit mencari perempuan yang sekelas dengan Cut Meutia, Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dhien, Ratu Shafiatuddin atau para tokoh perempuan Aceh lainnya. Mereka tidak lahir dari adat yang memanjakan apalagi menghina kemampuan seorang perempuan. mereka bisa berhasil karena diberdayakan oleh adat lingkungannya
Perempuan memang tidak memiliki kekuatan maskulin yang dapat mendobrak keterbelengguannya oleh adat yang telah bergeser ini dengan otot-otot mereka. Tapi perempuan memiliki kekuatan dalam kelembutannya. Perjuangan perempuan sekarang tidak akan sama dengan zaman perjuangan tokoh-tokoh perempuan aceh yang saya sebutkan sebelumnya. Namun perempuan harus terus bergerak, lewat pemikiran adalah alternatif jalan yang dapat dilalui bukan hanya diam menunggu nasib diperbaiki oleh waktu. Pena adalah jalan dari perjuangan menuangkan pikiran, lewat pena pemikiran perempuan harus mampu terus menerobos benteng-benteng ketidakadilan sampai kapanpun. Lalu mengapa kita masih enggan untuk menuliskan pemikiran kita, bukankah setiap manusia punya pemikiran yang unik? Begitu banyak manfaat yang dapat kita ambil dari kegiatan tulis menulis itu sendiri. Salah satunya adalah mengabadikan pemikiran, seperti perkataan Pramoedya Ananta Toer Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dalam sejarah” (Pramoedya Ananta Toer).
            Bangunkan Jiwa
Menulis adalah kegiatan yang akan membangun jiwa, jiwa yang sehat seperti sebuah komando yang akan menggerakkan semua lini kehidupan. Pertanyaannya, “Kapankah kita akan mulai belajar dan berpikir untuk jiwa kita? Selama ini kita hanya memikirkan membangun fisik kita saja, sedangkan jiwa kita tidak pernah tersentuh. Membangun jiwa akan terasa lebih mudah jika para perempuan tidak lagi memikirkan kepentingan jangka pendek dan kepentingan terbatas saja. Perjuangan emansipasi perempuan bukan sebatas untuk memenuhi kepentingan individual yang sifatnya praktis dan musiman semata. Disayangkan, emansipasi perempuan dewasa ini lebih terkesan sekedar untuk memperjuangkan ekonomi dan kesejahteraan individu dan keluarga, rasanya sangat individual.
            Seharusnya perjuangan ini adalah perjuangan yang bisa dinikmati oleh semua kaum perempuan dengan peran apa saja yang mereka tekuni. Hal ini dapat dilakukan ketika perempuan berhasil keluar dari keegoisan mereka, jiwa-jiwa mereka akan tumbuh bukan hanya ke dalam diri namun juga keluar diri. Dengan sendirinya mereka akan berpikir dan melakukan hal-hal yang luar biasa, yang akan mengangkat derajat kaumnya. Bahwa dalam kelembutan seorang perempuan ada kekuatan yang menggetarkan. Perempuan tidak harus menjadi seperti laki-laki. Jadilah diri sendiri yang memang identik dengan kelembutan. Miranda Risang Ayu dalam bukunya yang berjudul Permata Rumah Kita menuliskan “Bahwa eksistensi seorang perempuan pun tidak ditentukan dari banyaknya anak, perhiasan atau warisan yang dapat dimiliki dari pasangannya. Tetapi dari keluasan kesabarannya untuk merasa cukup dengan dirinya sendiri, sehingga tumbuh fungsi sosial dan spiritual dari semua yang disandarkan kepadanya”. Sehingga sikap altruis akan tumbuh dengan sendirinya dalam jiwa perempuan dan diharapkan dapat tumbuh secara berjamaah. Komaruddin Hidayat dalam buku Psikologi Beragama mengungkapkan dalam hidup kita harus mampu mengembangkan sikap altruis, yaitu sikap yang meyakini ada kenikmatan yang sesungguhnya dalam memberi. Ketika tatanan ini mampu dicapai maka tidak mengherankan jika seorang perempuan akan mampu memberikan keseimbangan dalam kehidupannya. tentunya bukan hanya perempuan yang harus belajar menjadi altruis tetapi lelaki juga harus memilikinya, karena altruisme sepihak hanya akan menciptakan eksploitasi tanpa sadar.
Dunia menerima pemberianmu
Agama (Islam) sendiri tidak bertentangan dengan konsep altruis. Rasulullah SAW dan para sahabat banyak memberikan contoh sikap altruisme ini dalam kehidupan mereka. Misalnya seperti yang disabdakan Nabi Muhammad SAW “Orang yang baik adalah orang yang (banyak) memberi manfaat kepada orang lain.” Dalam sabda yang lain, Rasulullah SAW mengatakan; “Tangan di atas (orang yang memberi) lebih baik dari tangan di bawah (orang yang menerima).
Masih ingat kisah seekor burung pipit yang kecil yang berniat memadamkan kobaran api yang membumbung tinggi ketika Nabi Ibrahim dibakar oleh raja Namrud dengan setetes air dari mulutnya? Sekilas hal ini perbuatan sia-sia bukan? Tetapi pernahkah kita berpikir, bahwa sekecil apapun satu ikhtiar maka hal itu cukup berarti. Menuliskan pemikiran oleh perempuan untuk hal yang bermanfaat bagi nasib perempuan lainnya adalah seperti sikap burung pipit memadamkan api dengan setetes air. Walau terlihat sepele, dengan menulis sebenarnya perempuan telah menggugah manusia untuk membaca dan memperhatikan ketimpangan-ketimpangan yang berlaku. Bukankah mata pena lebih mengerikan dari mata pedang? Lalu mengapa kita perempuan yang selalu diidentikkan dengan kelembutan (kelemahan) mengapa tidak memanfaatkan mata pena sebagai senjata. Dengan tulisan perempuan dapat mengubah dunia, tanpa harus menuju ke kancah peperangan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membentuk Generasi Sukses

Belajar Fitrah Seksualitas Melalui Shalat

Jangan Salahkan Perempuan