Mengembalikan Semua Kepada Hati


Oleh: Zahriani, Banda Aceh

Memang benar bahwa diam itu besar nilainya. Yaitu ketika keadaan membutuhkan untuk diam. Lain halnya ketika keadaan membutuhkan untuk bicara, maka bicara lebih baik daripada diam. Tentu bicara yang membawa manfaat bagi si pembicara dan lawan  bicara. Ketika banyak diam, banyak hal yang dapat selesaikan.dan tidak perlu menguras energi yang banyak untuk melampiaskan emosi. Diam bukan berati mesti statis, stagnan dan terpaku. Dalam diam seseorang bisa lebih banyak berpikir dan merenung, beristighfar dan malah bermuhasabah. Idealnya seperti itu. Namun diam itu begitu berat rasanya. Hampir semua yang tampak dilihat oleh mata dan apa saja yang didengar oleh telinga dapat dipastikan mengundang mulut untuk bicara.

            Benar saja kalau lidah itu tidak bertulang. Begitu lentur lidah dan bibir menari-nari membentuk suatu tarian yang amat serasi. Lidah dan bibir tidak pernah beradu, mereka selalu melakukan gerakan yang harmonis, keduanya selalu saling mengisi satu sama lain. Tapi sayang keharmonisan mereka telah membawa banyak petaka dalam kehidupan manusia. Terkadang hati harus merasa sangat menyesal karena tarian lidah dan bibir, bahkan tak jarang mata harus menangis akibat ulah  sang mulut. Jiwa akan selalu terkena imbasan keelokan yang menyayat dari tarian mulut. Menyesal, hampir selalu manusia akan menyesal setiap melihat akibat yang terjadi dari ulah sang mulut. Tapi manusia sangat sukar mendidik mulutnya, mereka selalu menari dan menari menyayat-nyayat jiwa yang memang sudah sakit. Amat benarlah apa yang disabdakan Nabi Muhammad SAW; ”Lidahmu adalah harimau bagimu”. Begitu buaskah lidah manusia? Memang begitulah adanya, semuanya tergantung kita dalam menggunakannya.
            Tapi pantaskah menyalahkan mulut dan lidah saja?. Bukankah mata juga bersalah telah melihat hal-hal yang tidak menyenangkan hati?, dan telinga mengapa mendengarkan sesuatu yang membuat hati menjadi panas?. Tapi pantaskah menyalahkan mata dan telinga?, bukankah kedua organ ini hanya menjalankan tugasnya yang telah diamanahkan Allah kepada mereka?. Lalu siapakah yang bertanggung jawab dari semua persoalan ini?!. Hati !!,  yakin hatilah yang bertanggung jawab. Andaikan hati tidak marah dengan apa yang dilihat oleh mata, tentu mulut tidak akan bicara sesuatu yang tidak benar. Andaikan hati tidak marah dengan apa yang didengar oleh telinga tentu mulutpun tidak akan mengomentari miring hasil pendengarannya bahkan mulut akan diam saja.
            Jika hati tenang menyikapi apapun yang didengarkan oleh telinga dan yang dilihat mata, tentu mulutpun akan bersikap tenang dan tidak akan menyakiti siapapun oleh ketajaman ucapannya. Namun hati yang sakit telah memberikan stimulus yang buruk kepada mulut untuk mengucapkan hal-hal yang buruk pula dari apa yang dilihat mata dan didengar telinga. Jika hati sehat tentu dia tidak akan mengarahkan mata dan telinga untuk melihat dan mendengarkan sesuatu yang tidak bermanfaat, kalaupun tanpa sengaja mata dan telinga melihat dan mendengar hal-hal yang tidak berfaedah, tentu hati akan menstimulus mulut untuk mengucapkan istighfar mohon ampunan pada Allah SWT. Benar saja seperti yang disabdakan Rasul Muhammad SAW ”Di dalam tubuh manusia ada segumpal darah jika baik ia maka akan baiklah semua anggota tubuh yang lain dan jika buruk ia maka akan buruklah semua anggota tubuh yang lain”. Segumpal darah itu adalah hati manusia yang menjadi prosesor utama semua sikap dan tingkah lakunya, hatilah yang menjadi penanggung jawab utama atas semua perbuatan dan perkataan manusia.
Sebuah ungkapan bijak mengatakan; ”Tuhan telah memberikan kepada semua umat manusia dengan sepasang mata, sepasang telinga, sepasang tangan, sepasang kaki, dan satu mulut. Untuk apa semua itu Tuhan berikan dan ada rahasia apa di balik pemberian tersebut? Antara lain adalah agar manusia lebih banyak melihat, mendengar, dan bekerja, tetapi sedikit bicara”. Dalam iklan sebuah produk ro**k juga menyebutkan, ”talk less, do more”, sedikit bicara, banyak bekerja. Mungkin maksudnya adalah berbicaralah sebatas fakta yang benar dan berfaedah saja. Sebaliknya, pembicaraan yang justru mendatangkan malapetaka lebih etis didiamkan saja, tidak usah dibicarakan. Bahkan Rasulullah Muhammad SAW jauh-jauh hari telah mengingatkan umat manusia dengan sabda beliau; ”Jika anda mau berbicara, maka bicaralah yang benarnya saja, selebihnya anda lebih baik diam”. Inilah jalan keselamatan dari kemungkinan terjadinya malapetaka akibat dari pembicaraan yang tidak terkontrol atau berlebihan. Belajar dari pengalaman ini, sejatinya menjadi suatu i`tibar untuk lebih bisa menjaga hati. Masihkah kita memungkiri realitas yang Tuhan anugerahkan ini?.Wassalam.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membentuk Generasi Sukses

Belajar Fitrah Seksualitas Melalui Shalat

Perempuan dan Syari’at islam