Mendidik Anak Semanis Permen Karet



Oleh: Zahriani Ahmad Amin
Anak adalah salah satu anugerah terindah dari Sang Maha Pencipta untuk sebuah keluarga. Seiring waktu kedekatan jiwa anak dan orang tua akan diuji dengan tumbuh kembang mereka. Secara fisik kita akan kagum luar biasa dengan perubahan ini, dari seorang bayi yang begitu mungil dan menggemaskan perlahan mereka berubah menjadi remaja yang gagah dan cantik.  
Namun sering kali orang tua dibuat ciut oleh tingkah remaja, di satu sisi sungguh tidak ingin mereka terkontaminasi oleh lingkungan yang semakin gila saja akhir-akhir ini, tak urung banyak orang tua bersikap bak sipir penjara. Segala tingkah laku remaja tidak luput dari pengawasan dan arahan yang menuntut dari orang tua. Bagi orang tua yang lebih moderat mungkin mereka akan menempatkan diri sebagai seorang intelijen, mengamati segalanya tanpa sepengetahuan target, namun saat nasehat harus diberikan sering orang tua terjebak dengan sikap ego. Sisi lainnya, orang tuapun tidak ingin remaja menjadi katak dalam tempurung, tumbuh tanpa jiwa sosial, kurang gaul dan mengalami kekurangan sisi sosial lainnya. Melepaskan mereka ke dalam lingkungan rasanya seperti makan sambal, enak tapi pedas.
Mendidik remaja rasanya seperti mengunyah permen karet, manis, kenyal dan melelahkan, tapi asyik apalagi sampai bisa meniup balonnya😁. Seringkali kita dibuat bingung oleh sikap dan tingkah remaja, pagi mereka manis seperti martabak bangka, siangnya terasa pahit seperti sayur bunga pepaya, eh sorenya mereka kembali menjadi lembut dan manis laksana smootie buah hmmm jadi lapar nih 😋.
Sikap mereka demikian bukan karena seenaknya  saja, usia remaja adalah saat peralihan dari seorang anak menjadi pemuda (dewasa muda). Pada masa ini selain perubahan fisik  mereka juga mengalami perubahan hormon. Nah perubahan hormon inilah yang menyebabkan mereka mengalami perubahan mood yang tidak dapat diprediksikan. Ditambah lagi pemikiran mereka yang mulai berkembang, mereka yang baru meninggalkan masa kanak-kanaknya, mulai tumbuh rasa ego dalam benaknya, “aku sudah besar bukan anak-anak lagi” adalah ucapan yang sering keluar dari mereka. Rasa ego yang tinggi ini membuat remaja mulai susah dinasehati?
Menjadi orang tua bagi remaja bukanlah hal mudah tapi tidak juga menjadi sulit, bila kita mau mengambil ibrah dari para pendahulu kita. Ada beberapa kisah yang bisa dijadikan teladan bagi orang tua dalam mendidik remaja, tentunya kisah yang paling fenomenal dalam pendidikan adalah kisah Luqman Hakim. Banyak kisah pendidikan lain yang disebutkan dalam Al-Quran, tentang bagaimana peran Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq, Nabi Ya’qub dan Nabi Zakaria sebagai seorang ayah dalam mendidik remaja hingga menjadi sosok yang shalih. Kita juga tidak dapat menafikan peran ibu yang begitu penting dalam pendidikan remaja, sebagaimana peran Asiah dalam mendidik Nabi Musa muda ketika Musa berada di istana fir’aun, padahal musa berada dalam lingkungan yang sangat ekstrem dengan ajaran tauhid namun Musa terselamatkan aqidahnya. Siti Sarah dalam mendidik Nabi Ishaq, Siti hajar dalam mendidik Nabi Ismail, dan Siti Maryam dalam mendidik Nabi Isa.
Dalam mendidik remaja perempuanpun begitu indahnya tercatat dalam Alqur’an, bagaimana Imran dan Nabi Zakaria saling membahu mendidik dan menjaga Siti maryam perawan suci ibunya seorang nabi, begitu juga Nabi Syu’aib mendidik anak perempuannya hingga menjadi istri shalihahnya Nabi Musa. Nabi Muhammad sebagai suri teladan yang paling muliapun merupakan contoh seorang ayah dalam mendidik remaja perempuan shalihah, lalu bagaimana peran ibu dalam pendidikan anak perempuan? Memang tidak disebutkan dalam Al-qur’an secara gamblang tapi kita bisa melihat dari sosok Khadijah dan para shahabiyah yang dididik oleh Al-qur’an dalam mempersiapkan puteri-puteri mereka.
Yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah mengapa para remaja ini mau mendengarkan nasehat dari orang tua tanpa merasa digurui, sementara bukankah terkadang kita harus bertengkar untuk dapat menyampaikan sebuah nasehat pada remaja kita? Coba kita renungkan mengapa para ayah dan ibu yang telah kita bicarakan sebelumnya mampu mendidik anaknya sampai menjadi sosok yang shalih?
Atau sebenarnya kita orang tua yang tidak mempersiapkan diri seiring perubahan yang terjadi pada anak-anak kita. Kebanyakan orang tua sudah merasa mapan dengan sikapnya, merasa diri sudah benar dalam bersikap. Prinsipnya, orang tua tidak pernah bersalah, titah mereka adalah kebenaran mutlak. Mungkin  benar dari segi pemikiran tapi pernahkah kita memperhatikan bagaimana cara kita menyampaikan pada si remaja ini? Sebenarnya orangtua yang seperti ini tidak kalah egonya dengan remaja yang baru tumbuh tersebut. Hal yang paling dibutuhkan agar pendidikan menjadi sukses adalah perubahan cara berkomunikasi dengan mereka. Masa kanak-kanak yang begitu lekat dengan kita terkadang membuat kita keasyikan, tanpa sadar masih memperlakukan si remaja seperti masa kecilnya. Rasa syok terhadap perubahan anak, takut kehilangan mereka membuat orang tua terkadang salah dalam bersikap. Tidak jarang kita jumpai hubungan remaja dan orangtua sudah sampai pada tahap saling menyakiti perasaan, sehingga tercipta blok antara mereka. Ketika hal seperti ini terjadi, menasehati remaja sama saja seperti menuangkan air kedalam gelas yang tertutup.

Mempersiapkan remaja
            Remaja  merupakan calon pemimpin yang hampir jadi, sebagian mereka yang mendapatkan arahan yang tepat telah mampu maju sebagai pemimpin baik bagi dirinya sendiri bahkan terhadap orang lain. Tentu ada point-point penting yang menjadi penekanan dalam mendidik remaja. 

  1. Poin penting yang pertama adalah komunikasi, berkomunikasi dengan remaja ini menuntut skill tersendiri bagi orang tua. Komunikasi yang bersifat otoriter, vonis, judge atau bentuk lain dari superioritas sangat dibenci oleh mereka. Komunikasi seperti ini akan membuat remaja apriori dan menjauh. Remaja butuh dialog yang memahami jiwa dan zaman mereka. Tentunya untuk mendapatkannya orang tua harus bersedia mencari tahu apa dan bagaimana trend yang sedang digandrungi, tapi bukan berarti harus menjadi seperti mereka. Jangan remehkan hal-hal baru yang mereka temui, bagi mereka itu adalah penemuan tentang “sesuatu." 
  2. Kedua adalah contoh teladan, tentu tidak cukup hanya dengan pemberitahuan akan mudah mengubah pola pikir seseorang. contoh dalam bentuk aksi akan memudahkan anak untuk menerjemahkan apa yang telah kita sampaikan. terkadang karena tidak adanya sinkronisasi antara ucapan dan perbuatan yang membuat orangtua gagal mendidik anak-anak terutama remaja. 
  3. Ketiga adalah delegasi tugas/limpahan tanggung jawab, orang tua hendaknya tidak lagi menempatkan si remaja sebagai pembantu rumah tangganya. Jadikan si remaja sebagai kepala daerah, dimana mereka memiliki wilayah kekuasaan sendiri yang walaupun secara garis besar masih dibawah pengawasan orang tuanya. namun tugas itu menjadi tanggung jawab mutlak si anak sehingga dia bebas untuk melakukan improvisasi dalam menjalankannya. 
  4. Keempat kerja sama, dimanapun kerja sama itu akan memudahkan dan membentuk ikatan antara dua pihak yang melakukan suatu misi. Jangan abaikan fungsi kerja sama, dari sini anak dapat mempelajari toleransi, empati dan simpati juga mengetahui apa misi keluarga yang ingin dicapai bersama. 

            Orang tua perlu memberikan arahan khusus sesuai dengan gender mereka. Bukan berarti meletakan mereka pada dikotomi domestik dan publik, tapi mengajarkan mereka menjadi diri mereka sendiri sesuai dengan gendernya. Dimana ada tanggung jawab kodrati yang tidak bisa dirubah oleh manusia, dan membutuhkan sikap-sikap tertentu sebagai pembuktian tanggung jawab terhadap tugas yang diembankan oleh Allah.      
            Cara berkomunikasi itu adalah intinya, bagaimana para orang tua memperlakukan putera puteri mereka sesuai dengan usia perkembangan mereka. Ucapan ucapan yang lembut ketika mendidik, kesabaran dalam memberi nasihat, kasih sayang yang tepat dan yang terakhir adalah doa yang baik kepada Sang Pemilik hati manusia, agar ditundukkan hati-hati para remaja ke jalan yang benar dan di ridhai Nya.


Penulis adalah Alumnus FMIPA Unsyiah, Ibu Rumah Tangga
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membentuk Generasi Sukses

Belajar Fitrah Seksualitas Melalui Shalat

Jangan Salahkan Perempuan