Berguru pada Nyamuk ”Nyentrik”
Oleh: Zahriani Ahmad Amin
”Sesungguhnya Allah tidak segan membuat
perumpamaan berupa nyamuk atau yang (makhluk) yang lebih rendah dari itu.
Adapun orang-orang yang beriman, mereka yakin perumpamaan itu benar dari Tuhan
mereka. Tetapi mereka yang kufur mengatakan; apakah maksud Allah menjadikan ini
sebagai perumpamaan? (Ketahuilah) dengan perumpamaan itu banyak orang
disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu pula banyak orang yang diberi
petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik”
(QS. Al-Baqarah: 26).
Kalau dipikir-pikir kelakuan nyamuk penyebar virus dengue nyamuk Aedes aegypti ini sangat nyentrik, mereka memilih hidup ditempat-tempat yang bersih dan berkembang biak di
tempat yang bersih pula. Nyamuk ini hanya memilih air yang bersih untuk
meletakkan telur-telurnya dan tidak pernah pandang bulu dalam menebarkan virusnya. Hidupnya sangat elegan
menyukai kebersihan sehingga banyak juga dari golongan kaya yang menjadi korban
DBD bukan hanya dari golongan miskin saja. Bisa dikatakan moto nyamuk ini
adalah “Siapa saja yang lengah akan menjadi korban eksekusi Problastis nyamuk ini.”
Di balik semua musibah yang disebabkan oleh nyamuk
ini, sepatutnya pula kita mengancungi
jempol pada pola hidup dan sistem kerja yang mereka terapkan. Mereka hidup ditempat yang bersih, tidak suka air
yang kotor, maka tidak heran jika keberadaan mereka juga banyak dikawasan
perumahan elit bukan hanya di tempat kumuh. Korban infeksi mereka bukan
hanya orang-orang miskin yang minim perlindungan tapi juga orang kaya yang
memiliki ektra perlindungan. Terkadang terpikirkan, andai saja pola hidup bersih dan sistem kerja nyamuk ini diterapkan pada penegakan hukum dinegeri ini, rasanya keadilan
yang sejahtera yang didambakan tidak akan begitu sulit untuk diperoleh oleh
semua lapisan masyarakat. Hukum yang
tidak memilah-milih mana
pelaku kejahatan yang harus dihukum dan pelaku kejahatan yang harus “dibela” tentu sangat dicintai
oleh rakyat.
Tegaknya hukum ditengah masyarakat akan menjadi momok bagi pelaku
kejahatan karena sikap kukuh terhadap keadilan. Dengan sendirinya “hukum” akan menjadi pahlawan di mata rakyatnya yang tercinta. Bukan dihujat dan
dicaci seperti sekarang ini. Sungguh disayangkan hukum di negeri kita lebih memilih menjadi
seperti “akibat” yang diberikan oleh ulah nyamuk ini yaitu ”penyakit.” Begitulah adanya apa yang berlaku pada penegakan hukum kita selama ini terhadap rakyat yang
seharusnya diayomi, hukum hanya bisa memberikat penyakit ”sakit
hati”
Memang sulit untuk mengambil hikmah dari segala
apa yang ada di sekitar, apalagi harus mengambil hikmah
kebaikan dari sesutu yang dibenci. Namun kedewasaan dalam berfikir
akan memudahkan manusia untuk bisa belajar dari apa saja yang ada
di sekelilingnya, bahkan dari seekor
nyamuk. Maka sangat benarlah apa yang difirmanka Allah dalam Al-Qur’an ”Ya
Tuhan kami, sungguh tidak ada yang sia-sia dari apa yang Engkau ciptakan, karena
itu lindungilah kami dari api neraka” (QS. Ali Imran:191). Hanya saja manusia enggan untuk belajar dan merenung dari apa saja yang ada di sekitarnya yang akhirnya melahirkan sikap
sombong dalam diri. Sehingga menjadikan hati tertutup dari segala kebaikan dan lebih senang
menjalani hidup dengan segala kerusakan. Apapun yang diurus oleh manusia yang bertipe seperti ini pasti hanya
kehancuranlah yang dapat diberikan.
Maka apalagi yang harus ditunggu, segeralah mulai hidup yang sehat dan bersih bukan hanya pada fisik
semata namun juga ke dalam jiwa. Basmilah nyamuk-nyamuk Aedes aegypti yang nyentrik ini sampai ketelur-telurnya.
Yah basmilah kejahatan sampai
keakar-akarnya.
Penulis adalah Alumnus FMIPA Unsyiah, Ibu Rumah
Tangga
Komentar
Posting Komentar